Kisah 47 Ronin

Thursday, February 23, 2017



Kisah tentang 47 Ronin bermula pada tahun 1701 di Zaman Edo, ketika Daimyo (Tuan tanah atau lebih tepatnya Samurai yang memiliki tanah kekuasaan dibawah Shogun) Asano Naganori berkunjung ke kediaman Shogun di Istana Edo (sekarang Tokyo). Biasanya memang dalam perjumpaan dengan Shogun akan ada suatu penataan upacara yang upacara ini dipimpin oleh seseorang yang ditunjuk oleh Shogun sebagai pengurus upacara, dia lah Kira Yoshinaka, seorang yang perlu disogok jika ingin kunjungan berjumpa Shogun itu berjalan dengan baik.


Tapi, Asano Naganori adalah seorang Konfusian yang taat, dia tidak mau menyogok orang tamak seperti Kira Yoshinaka, sehingga dia hanya menyediakan hadiah murah yang diberikannya kepada Kira Yoshinaka, yang hadiah itu dianggap Yoshinaka sebagai “Penghinaan” pada dirinya. Maka Yoshinaka pun berniat mempermalukan Naganori didepan pejabat Istana Shogun. Yoshinaka pun secara terbuka menghina dan menjelek-jelekan Naganori, sampai tiba-tiba Naganori yang sudah tidak tahan dengan hinaan Yoshinaka langsung mencabut Wakizashi (pedang pendek pendamping Katana) nya dan menyerang Yoshinaka. Para samurai pengawal istana Shogun dan pejabat-pejabat Istana berusaha melerai dan menyelamatkan Yoshinaka.

 Asano Naganori

Walaupun Yoshinaka tidak mengalami luka serius, tapi para pejabat Istana merasa mendapat penghinaan. Naganori telah melakukan suatu kesalahan fatal, dia telah menghunus senjatanya didalam istana Shogun, dan dia pun diperintahkan melakukan Seppuku (atau Harakiri) dan Shogun pun memerintahkan “Tidak ada lagi Balas Dendam”, kasus pun dianggap selesai.

Naganori menyerang Yoshinaka

Namun, kematian Asano Naganori menyebabkan 47 Samurai setianya kehilangan tuan, dan kini mereka telah menjadi Ronin (Samurai tak bertuan). Sebagai samurai, mereka terikat kehormatan untuk melakukan balas dendam, tapi Balas dendam mereka harus terhenti sementara waktu. Yoshinaka yang merasa para samurai Naganori akan membalas dendam padanya menyuruh mata-matanya untuk mengawasi mereka. Sang pemimpin ke 47 Ronin itu, yakni Oishi Yoshio tau kalau mereka selalu diawasi. Maka dia pun memerintahkan pada kelompoknya untuk bubar dan pindah ke berbagai daerah yang berbeda-beda.. sampai waktu yang ditentukan untuk kembali berkumpul. 

Oishi Yoshio

Untuk mengelabui mata-mata Yoshinaka, Yoshio pun pindah ke Kyoto dan sengaja mempermalukan dirinya dengan menghabiskan uangnya ke rumah-rumah Geisha dan selalu mabuk-mabukan dan bertengkar.  Dia bersandiwara dengan begitu baik, memperlakukan dirinya seakan-akan seorang samurai yang sudah jatuh martabat menjadi ronin, sampai-sampai di suatu hari, seorang samurai Satsuma yang lewat menendanginya dan meludahinya dengan rasa jijik saat melihat Yoshio mabuk di parit. Berita tingkah perangai Yoshio pun selalu diketahui oleh Yoshinaka, sampai setelah setahun penuh berjaga-jaga, Yoshinaka pun menarik kembali mata-matanya.

Akhirnya, setelah Yoshio mengamati dan merasa sudah tidak ada lagi yang mengawasi dirinya, dia pun mulai mengumpulkan kembali Kelompoknya, dan ke 47 Ronin itu pun berkumpul dan mulai menyusun rencana untuk menyerang rumah Yoshinaka. Pada suatu malam, satu setengah tahun setelah kematian Naganori, ke 47 ronin itu mulai menyerang rumah mewah kediaman Yoshinaka. Mereka dibagi menjadi dua kelompok dan secara sembunyi-sembunyi, kemudian menyerang kediaman Yoshinaka, membunuh pelayan dan samurai Yoshinaka yang berusaha menghalangi mereka, sampai mereka menemukan kamar tidur Yoshinaka. Disitu mereka menjumpai Yoshinaka sudah hendak melakukan Seppuku, tapi belum sempat ia melakukan Seppuku, Yoshio menahan tangannya dan menariknya, kemudian dia memenggal kepala Yoshinaka, dan kepala itu dia bawa kemudian dia bawa ke makam Naganori di Sengaku-ji (Kuil Sengaku) dan meletakkan kepala Yoshinaka di atas makam Naganori. Selepas semua berdoa dan menangis di makam Naganori yang merasa kehormatan tuan mereka Naganori sudah ditebus, mereka pun pergi ke jembatan Ryogoku untuk menyerahkan diri pada pengawal Istana Shogun yang sudah menunggu mereka.

Kejadian ini membuat Shogun kebingungan. Disatu sisi, para Ronin sudah melakukan hal terhormat sebagai Samurai kepada tuannya, tapi disisi lain para Ronin telah membunuh salah seorang pajabat Istana Shogun dan melanggar perintah Shogun yang memerintahkan “tidak ada balas dendam”. Kemudian ke 47 Ronin itu pun diperintahkan melakukan seppuku.  Mayat mereka semua akhirnya dimakamkan di dekat tuan mereka, dan ditempat itu menjadi tempat persinggahan penziarah untuk menghormati ke 47 Ronin. Salah satu penziarah itu adalah seorang Samurai Satsuma yang pernah menendang dan meludahi Oishi Yoshio saat di Kyoto. Dia menangis dan menjerit meminta maaf di atas makam Yoshio, dan akhirnya diceritakan kalau dia pun melakukan Seppuku di dekat Makam Yoshio.

 Oishi Yoshio melakukan Seppuku

Akhir dari Kisah ini mengisahkan juga nasib dari istri para Ronin yang melakukan Jigai (Junshi/kematian terhormat untuk perempuan) setelah mendengar nasib para suami mereka. Jigai, mengikat kaki mereka di paha ke betis sehingga kaki melipat, untuk mempertahankan sikap terhormat mati mereka yang kemudian menggorok leher mereka.





Reaksi: