GAJAH MADA MENYATUKAN SELURUH NUSANTARA

Tuesday, March 28, 2017


Kerajaan Majapahit tidak akan menjadi sebuah Kerajaan yang terluas di Nusantara setelah Kerajaan Melayu Sriwijaya kalau tidak karena seorang tokoh terkenal yang bernama Gajah Mada. Beliau ialah Rakryan Mahapatih (setara dengan Perdana Menteri) untuk kerajaan Majapahit yang ketika itu masih berkuasa di sekitar Pulau Jawa saja. Banyak yang berdiskusi mengenai asal-usul Gajah Mada. Ada yang mengatakan dia keturunan MELAYU SUMATERA, bukannya jawa seperti mana keturunan Raja Jayanegara sendiri, mempunyai darah Melayu Sumatera di dalam diri. Antara sejarawan Indonesia yang berbicara adalah dari Universitas Jambi (Unja), Fachrudin Saudagar.


Antara bukti yang coba dibawa oleh beliau adalah Tambo Adat yang disimpan masyarakat Hiang Tinggi yang oleh pengkaji juga diyakini sebagai salah satu dusun tertua di Kerinci, disebutkan Gajah Mada adalah keturunan dari Indarjati, nenek moyang masyarakat setempat, Tambo adat umumnya berisi silsilah dan gambaran sejarah peradaban masyarakat di masa lalu di sebuah kawasan. Majapahit dilantik oleh Raden Wijaya di tahun 1293 Masehi setelah berhasil mengalahkan bala tentara Monggol. Kemudian, di tahun 1309, Jayanegara mengambil alih tahta dari ayahnya Raden Wijaya.

Namun, kenaikan Jayanegara kemudiannya mencetuskan beberapa buah pemberontakan yang dimulai oleh pembesar Rangga Lawe, kemudian bertambah ke pembesar-pembesar lain seperti Sora, Juru Demung, Gajah Biru, Nambi, Semi dan Kuti. Ketika pemberontakan Semi dan Kuti, ketokohan Gajah Mada sebagai seorang pemimpin dan jendral perang yang hebat teruji. Angkatan tentara pemberontak yang diketuai oleh Semi dan Kuti telah menyerang angkatan tentara Jayanegara dan berhasil menawan kota Majapahit. Jayanegara terpaksa melarikan diri ke Kampung Badander. Ketika itu, Gajah Mada mahu melihat dukungan pembesar-pembesar lain dan rakyat Majapahit sama ada mereka condong ke arah pemberontak atau Jayanegara. Beliau menyebarkan cerita bahwa Jayanagera sudah mati. Kabar angin itu membuat para pembesar dan banyak rakyat Majapahit menangis.

Dan hasilnya, Gajah Mada mendapati bahwa kesetian pembesar dan rakyat masih ada pada raja Jayanegara lalu Gajah Mada bersepakat dengan pembesar yang lain dan berhasil merampas kembali kota pemerintahan Majapahit. Namun, setelah lama Jayanegara berkuasa, kepimpinan Jayanagera tidak disenangi oleh Gajah Mada. Selain kekejaman Jayanegara, raja itu juga dikatakan terlalu melindungi  dengan sangat dua orang adik tiri perempuannya.

Dikatakan Jayanagara melindungi sangat dua adik tiri perempuannya, puteri permaisuri termuda Kertarajasa, Dyah Dewi Gayatri. Jayanegara tidak mahu menikahi dua adik tirinya karena bimbang akan tahtanya selain dia berlaku tidak senonoh pada dua orang adik tirinya. Semua pembesar yang berkehendakkan dua adik tirinya telah diusir dari istana oleh Jayanegara. Ini melanggar adat ketika itu. Pada Kemuncaknya, Gajah Mada mengatur sebuah rancangan untuk membunuh Jayanegara. Seorang pembesar bernama Tanca yang memang membenci Jayanegara dihasut oleh Gajah Mada.

Kebetulan, ketika itu, Jayanegara sedang sakit dan memerlukan pembedahan. Dan Tanca yang memang berilmu dalam pembedahan ini telah dikirimkan untuk merawat dan melakukan pembedahan ke atas Jayanegara. Namun, ketika pembedahan Jayanegara telah dibunuh oleh Tanca. Namun Gajah Mada tidak dipersalahkan dalam hal ini karena dia hanya dilihat mau menyelamatkan raja dari sakit. Maka, dia akan terlihat sebagai pahlawan melindungi raja dan meraih dukungan rakyat.

Gajah Mada adalah salah seorang penakluk hebat dalam sejarah Nusantara, sebanding dengan Maharaja Dharaindra dari Srivijaya, Maharaja Chandrabanhu daripada Sri Dharmaraja dan juga Sultan Iskandar Muda dari Acheh. Gajah Mada terkenal akan sumpahnya (atau menifesto politiknya) di tahun 1336 Masehi. Masih terukir dalam sejarah sumpahnya untuk menyatukan kembali Nusantara yang telah terpecah setelah runtuhnya Kerajaan Melayu Srivijaya. Di hadapan pemerintah Majapahit,Tribhuwana Wijayatunggadewi dan para bangsawan Majapahit di istana ketika itu.

Gajah Mada telah bersumpah:
“Jika aku berhasil menundukkan Nusantara, barulah aku akan berhenti berpuasa (tidak memakan makanan pedas dan buah). Jika Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik telah tunduk, barulah aku akan berhenti berpuasa.”

Sumpah ini dikenali sebagai Sumpah Palapa. Namun, ketika Gajah Mada melafazkan sumpah ini, dia telah ditertawakan oleh para pembesar. Katanya Gajah Mada hanya mampu bermimpi saja. Dia harus berpijak di bumi yang nyata. Pembesar yang menghinanya itu terus saja dibunuh oleh beliau, dan pembesar yang lain pula dipaksa oleh Gajah Mada untuk mematuhinya. Kalau tidak, mereka akan menerima nasib yang sama. Setelah ketegasan Gajah Mada ini dipamerkan, barulah para pembesar yang lain memberi kerjasama untuk menjayakan mimpi Gajah Mada.

Maka, setelah itu, lahirnya seorang Bismarck di alam Nusantara apabila dasar Darah Dan Besi yang pernah diangkat oleh Bismark dalam pemerintahannya telah digunakan oleh Gajah Mada ratusan tahun lebih awal untuk menyatukan seluruh Nusantara seperti mana Bismark menyatukan seluruh Jerman. Gajah Mada bernasib baik karena Permasuri Tribhuwana Wijayatunggadewi banyak terhutang budi dengan Gajah Mada sehingga diberi lampu hijau untuk meneruskan dasar perluasan kekuasaan.

Gajah Mada memulai kampanye menaklukkan Nusantara dengan menyerang Bali dan Lombok. Kemudian, armada kapal diantar untuk menghapuskan sisa Kerajaan Melayu Srivijaya, yaitu Kerajaan Malayu di Palembang. Kemudian, dia berhasil menaklukan Minangkabau di Sumatera barat dan raja Adityavarman diletakkan sebagai raja boneka Majapahit di situ. Selepas itu, Gajah Mada pun menawan Kesultanan Islam Pasai, Bintan, Tumasik, dan Kalimantan.

Selepas Tribuwanatunggadewi turun takhta, dan Hayam Wuruk iaitu anak Tribuwanatunggadewi menaiki takhta, Gajah Mada meneruskan kampanye penaklukan di bawah raja baru. Kerajaan Majapahit kemudian semakin melebar sehingga berhasil menawan Logajah, Gurun, Seram, Hutankadali, Sasak, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Timor, dan Dompo. Pada puncaknya, Kerajaan Majapahit menaungi seluruh Nusantara termasuk Selatan Filipina, Sulawesi, Kalimantan, dan Tanah Melayu. Ini menjadikan di bawah Gajah Mada, Majapahit menjadi Kerajaan terluas dalam sejarah Nusantara setelah Kerajaan Melayu Srivijaya.

Namun, setelah kepergian Gajah Mada di tahun 1364, kelihatannya  Majapahit telah meredup. Kerajaan Majapahit tidak megah seperti zamannya. Maka, bermulailah setiap wilayah-wilayah yang berada di bawah jajahan Majapahit mulai keluar dan mengisytiharkan kemerdekaan. Tidak lama kemudian, naiknya sebuah lagi kerajaan Melayu, iaitu Kesultanan Melayu Melaka menguasasi Nusantara selepas meredupnya  Majapahit.

Kata sejarawan Indonesia yang terkenal, Prof. Slamet Muljono:
“Hakikatnya sejarah Majapahit yang gemilang itu sebenarnya ialah sejarah hidup Patih Amangkubumi Gajah Mada.” Sesungguhnya, Sang Gajah Mada ialah PENAKLUK yang mesti dikenang di dalam sejarah Nusantara. Legasi Gajah Mada amat besar di Indonesia. Pada peringkat awal republik, para pemimpin kemerdekaan seperti Soekarno seringkali memetik sumpah Gajah Mada sebagai inspirasi dan "bukti" bahawa negara boleh bersatu di sebalik batas yang luas dan berbagai budaya.


Oleh yang demikian, Gajah Mada adalah sumber inspirasi yang hebat ketika Revolusi Kebangsaan Indonesia untuk mencapai kemerdekaan dari penjajahan Belanda.

Reaksi: