Mengatur Uang Ala Keturunan Tionghoa

Tuesday, March 21, 2017



Mengatur Uang Ala Keturunan Tionghoa - 7 dari 10 orang terkaya di Indonesia dan di beberapa negara di Asia Tenggara yaitu Philipina dan Malaysia ialah keturunan Tionghoa. Tentu saja kesuksesan mereka berasal dari latar belakang budayanya.

Di saat Tahun Baru Cina ini, mari melihat nilai positif dari Kebudayaan Tionghoa, khususnya mengenai mengelola uang. Apa yang membuat mereka sukses dan kaya?

Saya yang bukan keturunan Tionghoa, sering bergaul dengan mereka. Terutama saat di tingkat perguruan tinggi. Banyak rekan Tionghoa saya ialah pemilik perusahaan furnitur besar di Negara Indonesia. Dari mereka, saya belajar budaya Tionghoa yang ia terapkan di dalam bisnis dan dalam mengelola uang.

Tak bisa dipungkiri, Peranakan Tionghoa yang sukses finansial mempunyai prinsip dasar yang dipegang teguh. Baik di agama dan budaya leluhur mereka, walau kebudayaan aslinya akan tercampur dengan kebudayaan lokal di tempat mereka tinggal.

Berikut Mengatur Uang Ala Keturunan Tionghoa : 


Cermat dan Hemat di dalam mengatur uang

Banyak yang berpikir keturunan Tionghoa itu pelit. Sebenarnya tidak seperti yang dipikirkan. Mereka hanya cermat mengeluarkan uang. Kalau biasanya 10-20% pendapatan disisihkan untuk tabungan di masa depan, keturunan Tionghoa bahkan mampu sampai minimal 50%.

Teks Cina klasik yaitu Dao De Jing menyatakan, tiga harta terbesar yang dimiliki ialah berhemat, cinta, dan kemurahan hati. Berhemat adalah bagian integral hidup budaya Tionghoa. Materi yaitu rumah mewah atau mobil tidak membuat mereka merasakan nyaman secara finansial. Malah, jumlah rekening banyak yang membuat mereka merasa aman.

Takut dengan Ketidak pastian di Masa Depan

Ketika banyak masyarakat umum hanya memilih hidup untuk saat ini, orang Tionghoa takut dengan ketidakpastian di masa depan. Mereka akan berusaha menyambut kehidupan di lain hari dengan persiapan yang lebih baik.

Hal berasal dari nilai ajaran Konghucu: "Di masa damai bersiaplah untuk perang”. Prinsip ini  kemudian diletakkan dalam pikiran mereka untuk selalu bersiap akan datangnya masa-masa sulit, bahkan di saat hidup berlimpah harta.

Memahami Cara Membuat Uang Berkembang

Menjadi masyarakat yang sangat suka menabung menjadikan keturunan Tionghoa paham cara membuat uang bekerja untuk mereka. Mereka tahu, menabung saja tidak akan membuat sukses secara finansial.

Karena itu, mereka senang berbisnis. Kalaupun mesti bekerja, keturunan Tionghoa akan mencari produk keuangan yang akan memberikan imbal hasil yang paling besar. Mereka sadar, beda di 0,5% saja akan memberi dampak pengaruh yang besar di dalam membangun kekayaan di jangka panjang.

Mengejar Jumlah

Kebanyakan keturunan Tionghoa tidak berbisnis yang canggih dan rumit. Namun, yang perlukan bagi banyak orang. Pikir mereka,  awalnya, prinsip yang dipegang ialah lebih baik untung sedikit tetapi sering daripada untung besar tapi jarang.


Mereka juga sadar untuk mempunyai sumber pemasukan yang sebanyak mungkin dengan pengeluaran seminimal mungkin. Pebisnis Tionghoa akan selalu mengembangkan bisnis yang mereka punya di berbagai bidang sehingga mempunyai berbagai pemasukan.

Tidak Berutang/Meminjam Uang

Keturunan Tionghoa bangga untuk menjadi orang yang bebas utang.  Untuk mereka, berutang uang dari teman atau kerabat adalah pilihan terakhir masalah finansial.


Mereka malu untuk berutang uang.  Bila tak bisa dihindarkan, mereka akan berusaha untuk melunasinya segera mungkin. Kegagalan untuk memenuhi kewajiban justru akan lebih memalukan bagi mereka. Mereka tidak berani menodai nama baik.

Tidak tabu membicarakan masalah uang

Keturunan Tionghoa terbuka tentang kondisi keuangan. Memberi tahu gaji atau pemasukan bukan hal yang tabu. Bahkan bisa untuk bahan pembicaraan di saat baru saling mengenal.

Bukannya tidak sopan. Tapi, untuk menilai bagaimana individu hidup dengan pendapatan dan pada akhirnya tahu siapa yang mesti dibantu.

Selalu Tawar Menawar untuk Mendapat Nilai Terbaik

Di negara maju, saat kita melakukan proses tawar menawar sering kali dipikir pelit. Di Negara Cina, tawar-menawar adalah kebiasaan hidup. Jika Anda mengunjungi negara itu dan masuk toko, sebaiknya tawar harga awal sampai 50-70%.

Walau baru-baru ini banyak yang menerapkan "tidak ada proses tawar-menawar ", Anda tetap masih akan menemukan penjual lain yang bersedia negosiasi (tawar-menawar). Hal ini dilakukan untuk mendapatkan harga terbaik dari barang yang ingin konsumen miliki.

Memberi yang Terbaik Untuk Guru dan Orang Tua

Hal yang paling saya sukai dari keturunan Tionghoa ialah penghormatan kepada guru dan orang tua kerana dianggap berjasa. Tidak ada keraguan untuk memberikan hasil terbaik kepada mereka. Dipercaya, berbakti kepada guru dan orang tua akan memberikan hasil kehidupan dan kedamaian yang lebih baik.


Nah, kalau mahu sukses, mari perbanyaklah belajar dari kisah keberhasilan orang lain. Selama tidak merugikan orang lain dan memberikan manfaat, kenapa tidak?

Reaksi: