Pengolahan Minyak Kelapa Sawit pada Industri

Saturday, March 18, 2017



Pendahuluan 

Salah satu golongan minyak nabati yang terpenting adalah minyak kelapa sawit. Pemanfaatn minyak kelapa sawit sangat luas sekali mulai dari olahn pangan dan non pangan. Sebelum sampai pada pengolahan menjadi produk yang diinginkan maka terlebih dahulu harus diolah untuk mendapatkan minyaknya.

Mendapatkan minyak dari buah kelapa sawit memiliki proses tersendiri yang harus di pahami. Mulai dari mendapatkan minyak dari daging buah sampai pada inti buah kelapa sawit. Proses pengolahan minyak kelapa sawit sangat penting artinya karena akan mempengaruhi kualitas produk – produk turunannya.



Uraian Materi

Kelapa sawit merupakan tumbuhan palm berjenis dura pertama sekali masuk ke Indonesia pada tahun 1848 di bawa oleh Gubernur Jenderal Inggris waktu itu Sir Stanford Raffles. Perkebunan kelapa sawit pertama sekali dibuka pada tahun 1911 di pantai timur Sumatera Utara tepatnya Kab. Langkat sekarang ini oleh para pengusaha asal Inggris. (Kompas On Line, 2003).

Pohon kelapa sawit ini menghasilkan minyak dari daging dan biji buahnya. Minyak yang dihasilkan ini dapat diolah menjadi bermacam-macam kebutuhan baik kebutuhan pangan maupun kebutuhan non pangan.

Tercatat penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia tahun 2001 adalah Malaysia dengan produksi 11 juta ton diikuti Indonesia dengan produksi 8 juta ton lebih dan kontribusi terbesar disumbangkan oleh Sumatera Utara dengan produksi 4,5 juta ton per tahun (Josie, 2004).
Buah dari tanaman kelapa sawit dapat menghasilkan dua jenis minyak yaitu :

1.      Crude Palm Oil (CPO)

2.      Crude Palm Kernel Oil (CPKO)

Crude Palm Oil diperoleh dari hasil pengempaan daging buah kelapa sawit sedangkan Crude Palm Kernel Oil diperoleh dari pengepresan biji buah kelapa sawit. CPO relatif lebih banyak mengandung asam lemak jenuh dibandingkan dengan CPKO. Sehingga nilai jual CPKO lebih tinggi dibandingkan dengan CPO akan tetapi rendemen yang diperoleh lebih banyak berasal dari daging buah dibandingkan dengan biji buah kelapa sawit.

Pemanfaatan CPO dan CPKO sangat luas sekali baik sebagai bahan pangan maupun non pangan. Sebagai bahan pangan CPO diolah menjadi minyak goreng, mentega dan lain sebagainya. Sedangkan sebagai bahan non pangan dapat digunakan sebagai bahan farmasi, polimer, pelumas, dan lain sebagainya.

Komponen Minyak Kelapa Sawit


Komponen yang terkandung dalam minyak kelapa sawit sangat menentukan mutu dari minyak kelapa sawit itu sendiri. Komposisi minyak kelapa sawit dipengaruhi oleh faktor genetika dan faktor perlakuan pada saat panen.



Perbedaan jenis dan jumlah rantai asam lemak yang membentuk trigliserida dalam CPO dan CPKO menyebabkan minyak tersebut berbeda dalam hal kepadatannya. CPO dalam suhu kamar berwujud setengah padat sedangkan CPKO berwujud cair.


Impurities Minyak Kelapa Sawit


Impurities yang terdapat pada minyak kelapa sawit berasal dari berbagai sumber. Sumber - sumber impurities ini adalah :

1.      Secara alami terdapat pada minyak kelapa sawit (primary by product)

2.      Terbentuk karena degradasi impurities yang secara alami dikandung minyak kelapa sawit (secondary by product)
3. Terbentuk saat proses pengolahan minyak kelapa sawit khususnya pada saat pengolahan dengan menggunakan bahan kimia pembantu (tertiary by product

Impurities yang secara alami terdapat pada minyak kelapa sawit atau sebagai

primary by product antara lain adalah : 

  • Protein
  • Asam Lemak Bebas
  • Pospolipida
  • senyawa tidak tersabunkan (unsaponifiables) seperti sterol, tokoferol, hidrokarbon. 
  • senyawa penyebab warna (colour bodies) seperti karoten, klorophil, gossipol. 
  • senyawa kompleks dari logam (metal complexes) 
  • belerang
  •  alkohol
  • ether
  • ester 
     Impurities yang terdapat pada minyak kelapa sawit karena degradasi senyawa secara alami terdapat pada minyak kelapa sawit atau yang timbul pada saat penyimpanan yang disebut secondary by product itu antara lain adalah :
  1.       asam lemak bebas (free fatty acid) peroksida
  2.        keton aldehid
  3.        trans fatty acid
  4.        senyawa logam
  5.        senyawa belerang
  6.        senyawa penyebab warna
  7.        non hydratable pospolipids 
    Sedangkan impurities jenis ketiga yang terbentuk karena sisa bahan kimia yang dipakai pada proses pemurnian, degradasi senyawa dan turunan bahan-bahan kimia, dan juga kontaminasi karena temperatur tinggi antara lain adalah :

  1.        pestisida
  2.        zat-zat pelarut 
  3.        hidrokarbon 
  4.        Logam tidak terdeteksi
       Untuk mendapatkan minyak kelapa sawit dengan kualitas tinggi dan dapat digunakan langsung pada proses - proses lanjutan seperti hidrogenasi atau interesterifikasi, sangat dibutuhkan menentukan junlah impurities pada minyak kelapa sawit yang harus dihilangkan atau yang tersisa.

       Pengolahan Minyak Kelapa Sawit

     Proses pengolahan minyak kelapa sawit adalah proses pengambilan minyak dari buah kelapa sawit. Perlakuan-perlakuan dalam proses ini hanya sebatas perlakuan mekanik untuk mendapatkan crude palm oil dari daging buahnya dan crude palm kernel oil dari biji buahnya. Secara garis besar proses yang dilakuakn dalam mendapatkan crude palm oil dapat dilihat pada gambar 3.1.
       

       1. Perebusan 

       Tandan buah segar dimana buah kelapa sawit masih menempel pada tandannya mendapat perlakuan awal yaitu direbus dalam ketel rebusan atau disebut juga sterilizer. Tujuan dari perebusan didalam sterilizer itu adalah :
  1.        mematikan enzim lipase penyebab degradasi minyak menjadi asam lemak bebas
  2.        mengurangi kadar air
  3.         memudahkan buah lepas dari tandan
  4.         melunakkan daging buah 
     Secara ideal perebusan dilakukan selama 85 - 100 menit dengan tekanan uap mencapai 2,8 - 3 kg/cm2. Pola perebusannya adalah perebusan dengan tiga puncak atau triple peak.
      

         Grafik di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :
  1.        A-B: Memasukkan uap untuk menaikkan tekanan dari 0 kg/cm2 menjadi 2,5- 3 kg/cm2 selama 8 menit. 
  2.         B-C: Menurunkan tekanan dari 2,5 - 3 kg/cm2 menjadi 0 kg/cm2 selama 2 menit 
  3.       C-D: Memasukkan uap untuk menaikkan tekanan dari 0 kg/cm2 menjadi 2,5-  3 kg/cm2 selama 8 menit. 
  4.         E-F : Mengosongkan uap hingga tekanan 0 kg/cm2 selama 2 menit.
  5.        F-G : Memasukkan uap untuk menaikkan tekanan dari 0 kg/cm2 menjadi 2,5- 3 kg/cm2 selama 6 menit. 
  6.        G-H : Mempertahankan tekanan 2,5 - 3 kg/cm2 selama 53 menit.
  7.        H-I : Menurunkan tekanan dari 2,5 - 3 kg/cm2 menjadi 0 kg/cm2 selama 4 menit 

  Hal - hal yang mempengaruhi perebusan :

   
        a.  Tekanan uap dan lamanya perebusan
              Tekanan  uap  dan  lamanya  perebusan  yang  tidak  cukup  akan  berpengaruh


terhadap :

1. buah kurang masak

2. pelumatan didalam digester tidak sempurna

3. ampas  basah  yang  menyebabkan  pembakaran  dalam  ketel  uap  tidak sempurna.

Sebaliknya perebusan yang terlalu lama menyebabkan :

1. buah menjadi memer, minyak terikut didalam air kondensat. merusak mutu minyak dan inti.

        b.    Pembuangan udara dan pembuangan air kondensat.
      
     Apabila udara didalam rebusan tidak dikeluarkan secara sempurna akan terjadi pencampuran udara dan uap air yang mengakibatkan perpindahan panas dari uap ke dalam buah tidak sempurna. frekuensi pembuangan kondensat dan pembuangan uap bekas selama proses perebusan tergantung pada pola perebusan.

    2. Penebah (Threser)

     Buah rebus yang keluar dari sterilizer dituangkan ke dalam threser untuk melepaskan buah kelapa sawit dari tandannya. Pemisahan dilakukan dengan membanting buah dalam drum berputar dengan putaran 23 - 25 rpm.

     3. Pelumatan Buah

     
    Buah yang telah terpisahkan dari tandannya pada threser di kirim ke digester untuk dilumatkan. Buah diproses dengan cara diaduk dengan air panas. sedemikian rupa didalam digester pada suhu 90 - 95 oC sehingga sebagian besar daging buah terlepas dari bijinya. Fungsi utama dari digester adalah :

    1. melumatkan berondolan buah kelapa sawit yang telah terlepas dari tandannya sehingga minyaknya dapat diekstraksi dalam screw press secara maksimal.
      2. meniriskan minyak bebas sehingga mengurangi volume massa yang akan dikempa.
      3. menaikkan suhu masak guna memudahkan proses pengempaan.

     4.  Pengempaan Buah

     Buah kelapa sawit yang sudah terlumatkan bercampur dengan air panas yang keluar dari digester diambil minyakknya dengan cara dikempa pada alat screw press. Alat ini bekerja dengan tekanan 30 - 50 kg/cm2 dengan menggunakan air pengencer bersuhu 90 - 95 oC. Minyak yang dihasilkan berupa Crude Palm Oil (CPO) dikirm ke unit pemurnian sedangkan ampas dan biji di lirim keunit pengolahan biji.

   5. Unit Pemurnian

    CPO yang keluar dari screew press masih mengandung air yang cukup banyak juga kotoran - kotoran lainnya. Sehingga CPO belum memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan. Untuk memenuhi standar mutu maka diperlukan unit pemurnian yang akan memisahkan air dan kotoran - kotoran yang terkandung di dalam CPO.






Reaksi: