Puisi Terpendek di Dunia

Tuesday, March 28, 2017



Pada tahun 1975 di Universitas Harvard, Muhammad Ali, petinju terbaik di dunia, telah membuat puisi terpendek di dunia. Sewaktu memberi pidato untuk majelis graduasi, mahasiswa di sana cukup terkesima dengan ucapan Muhammad Ali mengenai persahabatan dan perpaduan. Setelah itu, mahasiswa meminta Muhammad Ali untuk berpuisi. Lalu, dia berpuisi,

"Me, We."

Tidak ada yang tahu apa yang dimaksudkan oleh Muhammad Ali dengan puisi tersebut. Yang menjadi persoalan terbesar bagi pemuisi adalah apakah yang menjadi puisi itu puisi? Adakah puisi itu seperti mesin? Seperti letupan? Seperti mimpi? Sebuah gelombang? Pemuisi selalu memakai metafora untuk menggambarkan definisi. Walau apa pun definisi yang coba diketengahi berkenaan dengan 'puisi'.

 terdapat beberapa ciri yang telah membentuk puisi.

  1. Puisi menekankan kualitas bahasa musik yaitu ritma dan irama seperti yang terdapat dalam, 'Odes' oleh Confucius, Kitab Veda oleh Brahma, 'Sonet' oleh Shakespeare, dan Quran.
  2. Puisi memakai bahasa yang dalam. 'Deep' orang kata. Ia seperti tulisan sastra yang mampu diperas oleh buku seperti air.
  3. Puisi selalu menggambarkan perasaan yang cukup mendalam. Ini pun dikatakan 'deep' juga seperti puisi-puisi 'Ode to an onion' dan Rumi oleh Pablo Neruda.

Puisi ialah sebuah seni yang mempunyai disiplin yang tinggi dalam membentuk sebuah definisi yang mudah. Puisi yang berirama suatu ketika dahulu digunakan untuk mengingati kisah-kisah ataupun peristiwa-peristiwa tertentu. Puisi tak semestinya perlu berlirik seperti yang terdapat dalam karya 'Apfel' oleh Reinhard Dohl dan 'Silenco' oleh Eugen Gomringer.

E.E Cummings menulis puisi mengikut pembentukan dan dinamik keadaan dunia itu sendiri seperti dia membentuk puisi seperti daun yang bergugur dari pokoknya. Ini yang menjadikan puisi seolah menyatu dengan seni visual. Sekiranya sifat visual puisi sedikit kabur, mungkin apa yang tinggal adalah musik. Ini menimbulkan masalah baru, apakah lirik lagu itu sebuah puisi?

Tidak banyak yang menganggap lirik musik sebagai sebuah puisi. Tapi lirik musik yang dihasilkan oleh seniman seperti Paul Simon, Bob Dylan dan Tupac Shakur mampu menjadi sebuah puisi tanpa adanya irama lagu dan musik. Dalam rap juga, sifat puisi sepert irama, ritma dan visualitas tak dapat dipisahkan di dalam rap.

Penulisan dalam puisi yang mempunyai selang waktu dan berhenti pada suatu tempat, membantu pembaca membaca puisi secara berirama. Tetapi apabila benda-benda itu tidak ada, apakah puisi itu menjadi puisi? Mungkin tidak lagi. Puisi memakai permainan kata dan gambaran yang kabur dalam menghasilkan prosa dan diformatkan di dalam bentuk paragrap. Kalau kita tidak melihat puisi dalam bentuk 'fisikalnya', dan lebih kepada 'konsep', kita akan mendapati 'puisi' sentiasa berada di sekeliling kita.

Garisan antara prosa, musik, dan seni visual mempunyai garisan yang sangat tipis dan terlalu kabur. Tapi satu perkara yang kita pasti yaitu definisi perkataan 'poetry' itu sendiri. Ia berasal dari perkataan Yunani, 'poiesis' yang bermaksud 'Mencipta'. Mengambil 'bahan-bahan mentah' dunia untuk menciptakan sebuah 'kepahaman' yang baru.

Dan menjadi maksud apakah yang dimaksudkan oleh manusia dalam cara hanya manusia saja dapat dipahami. Kajian pernah dilakukan di robot untuk menulis sebuah puisi, untuk membedakan puisi yang dihasilkan oleh manusia dan robot. Jawabannya menarik, robot tidak mampu menghasilkan puisi seperti menghasilkan jurnal, menciptakan peralatan dan melakukan proses perobatan.


Reaksi: