Samurai Wanita Terakhir

Sunday, March 26, 2017



Film The Last Samurai Ialah salah satu film hebat yang menjadi kegemaran saya sehingga sekarang. Salah satu babak yang tidak dapat saya lupakan ialah babak perang terakhir diantara pasukan Samurai yang disertai oleh Tom Cruise berhadapan dengan tentara Maharaja Jepang yang lengkap dengan senjata moderen. Dikatakan bahwa film ini adalah berdasarkan kisah yang sebenarnya.


Namun demikian taukah anda bahwa kisah pemberontakan Samurai seperti dalam film tersebut bukanlah satu-satunya kisah yang pernah terjadi di Jepang. Malah selain daripada kisah The Last Samurai seperti yang telah difilmkan itu ada satu lagi kisah yang kurang populer yakni The last Samurai Women. Ya, terdapat peristiwa yang terjadi pada zaman tersebut yang melibatkan perjuangan golongan wanita dari keluarga Samurai.

Wanita pahlawan dari Samurai yang saya maksudkan adalah, Nakano Takeko serta para pengikutnya yang hidup tahun 1847-1868. Beliau adalah wanita dari samurai yang bernama Aizu. Samurai Aizu adalah salah satu Samurai yang paling dihormati dan paling terkenal di Jepang. Samurai ini telah lama menjadi Samurai utama yang menjaga keselamatan Shogun. Oleh karena itu para wanita yang lahir dari keluarga ini biasanya akan dilatih dalam seni mempertahankan diri termasuk memakai senjata bagi menjaga harga diri keluarga dan keselamatan rumah mereka dari serangan musuh.

Dalam sejarah Jepang sebenarnya telah ada banyak pahlawan-pahlawan wanita yang turut  turun ke medan perang . Namun demikian oleh karena dalam budaya Jepang kedudukan lelaki  lebih tinggi dari wanita dan tugas menjaga keselamatan negara serta kehormatan keluarga hanya menjadi tanggung jawab untuk lelaki, maka sumbangan para wanita selalu  tidak tercatat dan disudutkan di dalam lembaran sejarah. Kecuali untuk beberapa keadaan tertentu dalam sejarah yang melibatkan wanita yang berstatus tinggi. Namun tetap saja kurang terkenal dibanding sejarah para pahlawan lelaki.

Nakano Takeko ialah salah seorang daripada mereka. Sejak dari kecil beliau telah diajarkan bermain pedang serta sejenis senjata yang disebut Naginata atau pedang tombak. Malah menurut penerus keluarga Samurai Aizu yang masih ada sehingga sekarang, kehebatan Takeko dalam bermain Naginata sehingga beliau berhasil mengalahkan gurunya yang juga merupakan bapak saudara beliau sendiri. Setelah berhasil mengalahkan bapak saudaranya beliau menolak untuk dikawinkan oleh keluarganya dengan lelaki yang telah dipilih pihak keluarga dan membuat keputusan untuk menjadi pelatih seni mempertahankan diri dan Naginata di Edo.

Dalam tempo tersebut kekuasaan barat mulai masuk ke Jepang untuk mendapatkan pasar perdagangan. Setelah terjadinya sedikit konfrontasi diantara Kerajaan Jepang dan pihak barat terutama dengan  Amerika, Maharaja Jepang terpaksa menandantangani perjanjian perdangangan dengan pihak barat. Keadaan ini tidak disukai oleh para Samurai sertapihak Shogun karena mereka beranggapan Maharaja telah menjadi boneka barat dan mencemarkan harga diri Jepang.

Pendek cerita, telah terjadi konflik diantara pendukung Maharaja dengan pendukung Shogun. Pihak tentara Maharaja yang telah dilengkapi dengan senjata moderen dari barat yang serba canggih telah mengalahkan Shogun dan berhasil menawan wilayah yang dikawal oleh Shogun. Akhirnya Shogun menyerah kalah kepada Maharaja.

Namun demikian pengikut mereka terutama dari pihak Samurai Aizu masih tidak mahu menyerah kalah. Dalam perang saudara ini yang menariknya bukan saja lelaki yang terlibat malah juga para wanita. Takeko bukan seorang diri dalam peristiwa ini tetapi beliau turut menyertai oleh ramai lagi para pahlawan wanita dari pihak Aizu. Sebenarnya dalam budaya Jepang tidak ada sebutan Samurai Wanita. Biasanya istilah yang digunakan untuk para pahlawan wanita dari keluarga Samurai ini adalah Onna-bugeisha .

Dalam pertempuran yang dipanggil sebagai The Battle of Aizu ini Takeko menjadi ketua sekumpulan wanita pihak Aizu untuk menyerang tentara Maharaja yang lengkap dengan senjata api. Pasukan wanita ini digelarkan sebagai Aizu Joshitai. Takeko dan pasukannya telah menyerang tentara Maharaja dibagian depan sebaik saja pasukan tentera Maharaja melepaskan tembakan yang pertama. Dalam ruang waktu yang singkat ini beliau dan pasukannya telah berlari ke arah tentara musuh dengan menghayunkan Naginata.

Apabila tentara Maharaja melihat pasukan yang menyerang mereka didepan adalah para wanita, mereka telah membuat keputusan untuk tidak menembak sebaliknya terus berhadapan dengan pahlawan wanita tersebut dengan bayonet untuk menangkap mereka hidup-hidup. Mereka menyangka pasukan Takeko hanya pasukan wanita lemah yang diberikan senjata untuk mempertahankan diri . Namun alangkah terkejutnya mereka, melihat bahawa pasukan wanita yang menyerang mereka ini bukan wanita biasa tapi wanita pahlawan yang terlatih dalam ilmu perang. Banyak daripada tentara Maharaja yang mati akibat hayunan Naginata dari pasukan Takeko ini.

Takeko dikatakan telah berhasil membunuh lebih kurang enam orang tentara musuh sebelum beliau sendiri ditembak dan cedera parah. Setelah beliau ditembak, adiknya yang baru berusia 16 tahun yang turut sama dalam dalam pasukan wanita tersebut telah memenggal kepala Takeko untuk mencegah kepala kakaknya itu dijadikan trofi oleh pihak musuh. Adik Takeko berhasil menyelamatkan diri dan kepala tersebut telah diserahkan kepada seorang sami untuk dikebumikan.Walaupun pertempuran tersebut akhirnya dimenangi oleh pihak Maharaja, namun pihak Aizu yang bertahan didalam Kota tidak mau menyerah dan akhirnya setelah sebulan kubu mereka dibedil dengan meriam bertubi-tubi mereka terpaksa menyerah.

Namun para wanita pihak Aizu tidak rela jika tubuh mereka dijamah oleh musuh atau dijadikan pemuas nafsu oleh musuh. Karena sudah menjadi kebiasaan peperangan dalam budaya Jepang, jika sesebuah kubu itu jatuh maka para wanitanya akan menjadi korban pemerkosaan atau dijadikan hamba pihak musuh. Oleh karena itu mereka semua telah bertindak melakukan bunuh diri. Dikatakan semasa tentara musuh masuk ke kubu tersebut didapati  200 mayat wanita Aizu yang mati membunuh diri. Oleh karena pertempuran Aizu ini adalah pertempuran yang menandakan berakhirnya kewujudan kelas bangsawan Samurai, maka Takeko bisa dikatakan sebagai salah seorang Samurai wanita terakhir.

Begitulah kisah mengenai The Last Samurai Women yang jarang sekali kita dengar. Sehingga sampai hari ini pihak Samurai Aizu masih mengingat jasa dan kepahlawanan Takeko dan mereka masih meneruskan tradisi untuk melatih para wanita bertempur dengan pedang dan Naginata. Walaupun dalam lembaran sejarah peranan pahlawan wanita dari keluarga Samurai ini disudutkan dan tidak diberikan informasi yang meluas, namun jasa, semangat kepahlawanan dan pendirian mereka patut untuk dikenang dan jadikan teladan. Sekian.





Reaksi: