Sumber Limbah di Kelapa Sawit

Sunday, March 19, 2017




Sumber Limbah Kelapa Sawit

Secara umum sumber limbah kelapa sawit yang berasal dari perkebunan kelapa sawit dapat digolongkan menjadi dua macam yaitu : 


1.  Limbah Lapangan

Limbah lapangan merupakan sisa tanaman ynag ditinggalkan waktu panen, peremajaan, atau pembukaan areal perkebunan baru. Contoh : kayu, ranting, daun, pelepah, dan gulma hasil penyiangan kebun. 

2. Limbah Pengolahan 

Limbah yang berasal dari hasil ikutan yang lerbawa pada, saat panen dan kemudian dipisahkan dari produk utama saat proses pengolahan. Contoh : Tandan. Kosong, cangkang 

Jenis Limbah Kelapa Sawit
Berdasarkan jenisrnya limbah kelapa sawit dapat digologkan menjadi tiga macam yaitu :

1.  Limbah Padat Limbah padat kelapa sawit dapat berupa: 
  • Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS),
  • cangkang atau tempurung
  • serabut atau serat
  • sludge atau lumpur 

TKKS dan lumpur yang tidak tertangani menyebabkan bau busuk, tempat bersarangnya serangga lalat. Limbah padat yang berasal dari pengolahan limbah cair berupa lumpur aktif yang terbawa oleh hasil pengolahan air limbah.

2. Limbah Cair Limbah cair kelapa sawit kebanyakan berasal dari proses pengolahan kelapa sawit itu sendiri seperti proses klarifikasi, proses sterilisasi (pengukusan), dan buangan dari hidrosiklon. Pada umumnya limbah cair kelapa sawit mengandung bahan organik yang tinggi sehingga dapat mencemari air tanah.

3. Limbah Gas Limbah gas kelapa sawit dapat berupa uap - uap air buangan steam.


Limbah Cair
Limbah cair pabrik kelapa sawit ( LCPKS ) berpotensi sebagai pencemar lingkungan. Hal ini disebabkan kandungan nilai COD, BOD, TS, dan. TDS yang tinggi. Secara lengkap dapat dilihat pada tabel .








Berdasarkan hal tersebut maka, dibutuhkan pengolahan lebih lanjut untuk menurunkan kandungan senyawa organik tersebut.

Tahap Pengolahan Limbah Cair

1.  Pendinginan 

Limbah cair yang telah dikutip minyaknya pada fat - fit mempunyai karak-teristik bersifat asam dengan pH 4 - 4,5 dan suhu. 70 - 80 oC. Sebelum limbah dialirkan kekolam pengasaman, suhunya perlu diturunkan menjadi 40 – 45 oC agar bakteri mesophilik dapat berkembang dengan baik. 

2.  Pengasaman 

Setelah dari kolam pendingin limbah akan mengalir ke kolom pengasaman yang lebih berfungsi sebagai proses pra-kondisi bagi limbah sebelum masuk ke kolam anaerobic.

3.  Resirkulasi 

Resirkulasi dilakukan dengan mengalirkan cairan dari kolam anaerobik yang terakhir ke saluran masuk kolam pengasaman yang bertujuan untuk menaikkan pH, menambah nutrisi, bakteri dan membantu pendinginan.

4. Pembiakkan Bakteri 

Bakteri yang akan digunakan dalam proses anaerobic pada awalnya dipelihara dalam suatu tempat yang bertujuan memulai pembiakkan bakteri. Didalam pembiakkan awal perlu ditambahkan nutrisi yang merupakan sumber energi dalam metabolisme bakteri seperti urea, phosphat dan limbah yang telah diencerkan. Setelah bakteri menunjukan perkembangan dengan indikasi timbulnya gelembung – gelembung gas (biasanya 2 - 4 hari), bakteri tersebut dimasukkan ke kolarn pernbiakan yang sebelumnya telah diisi dengan limbah matang (telah melalui proses pengasaman dan netralisasi dengan. pH >7) dan selanjutnya dialirkan ke kolarn anaerobic. 

5. Proses anaerobik 

Dari kolam pengasaman, limbah akan mengalir ke kolom anaerobic primer.karena pH dari kolam pengasaman masih rendah maka limbah harus dinetralkan dengan cara mencampurkannya dengan limbah keluaran dari kolom anaerobic melalui cara sirkulasi pada parit masukan kolom anaerobic. Bersamaan dengan ini bakteri dari kolom pembiakan dialirkan ke kolom anaerobic. Dalam anaerobic, bakteri anaerobic yang aktif akan membentuk asam. organic dan gas C02. Selanjutnya bakteri methane (Metanogenic Bacteria) akan merubah asam organic menjadi methane dan C02. Jika BOD limbah pada kolom anaerobic primer masih cukup tinggi maka limbah diproses lebih lanjut pada kolom anaerobic sekunder. Kolom anaerobic sekunder dikatakan beroperasi dengan baik jika setiap saat nilai parameter utamanya 

berada pada tetapan di bawah ini :
  • pH                   : 6 – 8
  • VFA                : < 300 mg/I
  • Alkalinitas       : > 2000 mg/l

BOD limbah setelah keluar dari kolom anaerobic berkisar antara 3500 - 5000 mg/l dengan pH 6 - 9.

6.  Proses fakultatif 

 Proses yang terjadi pada kolorn ini adalah proses penonaktifan bakteri anaerobic dan prakondisi proses aerobik. Akfivitas ini dapat diketahui dengan indikasi pada permukaan kolom tidak dijumpai scum dan tampak kehijau - hijauan. 

7.  Proses aerobik


Proses yang terjadi pada kolom aerobik adalah proses aerobik. Pada kolom ini telah tumbuh ganggang dan mikroba heterotrop yang membentuk flok. Hal ini merupakan proses penyedian oksigen yang dibutuhkan oleh mikroba dalam metode pengadaan oksigen dapat dikakukan secara alami dan menggunakan aerator. 

8. Masa tinggal 

Dari seluruh rangkaian proses tersebut di atas, masa tinggal limbah selama proses berlangsung mulai kolom pendinginan sampai air dibuang ke badan penerima membutuhkan waktu masa tinggal selama lebih kurang 120 - 150 hari. 

9.  Pengoperasian kolom 

Berdasarkan pengendalian limbah ditentukan oleh pengoperasian sistem kolom yang cermat dan perawatan yang baik.

 Beberapa pedoman diberikan di bawah ini : 
  1. Kolom anaerobikfakultatif dan aerobik harus dirancang dan dioperasikan secara seri.
  2. Scum mempumyai pengaruh yang baik yaitu mencegah oksidasi langsung oleh udara dan atau sinar matahari yang mempengaruhi aktivitas bakteri.
  3. Ketebalan lapisan scum tersebut berkisarn antara 5 - 15 cm.
  4. Kolom fakultatif dan atau aerobik harus dijaga agar selalu tidak ada scum dan kotoran - kotoran yang terapung.
  5. Semua aliran masukan dan keluaran harus dijaga tetap bersih dan bebas dari penghalang agar limbah dapat mengalir dengan lancar. 
  6. Masa tinggal limbah pada setiap, kolom harus disesuaikan dengan norma yang ditetapkan. 
  7. Instalasi pengolahan limbah harus dipelihara dan dirawat dengan baik agar instalasi tersebut dapat dioperasikan dan dikendalikan dengan baik 

10.  Aplikasi lahan 

Pemanfaatan limbah cair dengan cara aplikasi lahan dapat dilakukan dengan sistem flatbet. 

11.  Acuan kolam pengendalian limbah 


Ukuran kolarn pengendalian limbah ditentukan oleh :
  • Kapasitas pabrik
  • Volume air limbah
  • Lama masa tinggal limbah pada kolorn 



Reaksi: